Kamis, 13 September 2018

Model Pembelajaran KOLABORATIF dan KONTEKSTUAL

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF DAN KONTEKSTUAL
A.      MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF

1.      Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif didefenisikan sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak menyetir kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Menurut Deutch dalam Mahmudi (2006:61), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama. Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.

          2.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
Ø  Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
Ø      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
Ø   Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
Ø  Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
Ø    Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
Ø    Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
Ø      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
Ø   Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

3. Karakteristik Pembelajaran Kolaboratif
Beberapa karakteristik pembelajaran kolaboratif, yakni: 
Ø Ketergantungan positif
Ketergantungan yang positif antarsiswa dalam suatu kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang positif. Ketergantungan positif akan terjadi jika setiap anggota kelompok menyadari bahwa seseorang tidak dapat berhasil tanpa melibatkan keberhasilan anggota lainnya.
Ø Interaksi
Interaksi antaranggota kelompok menjadi demikian penting karena terdapat aktivitasaktivitas kognitif penting dan kecakapan interpersonal yang dinamis hanya terjadi jika terdapat interaksi yang dinamis. Aktivitas kognitif dan kecakapan interpersonal yang dinamis itu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas seperti mempresentasikan hasil diskusi, berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok lain, dan mengecek pemahaman. Adanya interaksi antaranggota kelompok memungkinkan terwujudnya sistem dukungan akademik, yakni setiap anggota mepunyai komitmen untuk membantu anggota kelompok lain.
Ø Pertanggungjawaban individu dan kelompok 
Dalam pembelajaran kolaboratif, tidak hanya keberhasilan kelompok saja yang  menjadi perhatian, namun keberhasilan setiap anggota kelompok sangat dipentingkan. Pembelajaran kolaboratif juga dimaksudkan untuk membuat siswa kuat secara individual. Kelompok harus bertanggung jawab dalam hal pencapaian tujuan dan masing-masing anggota kelompok harus bertanggungjawab terhadap kontribusinya dalam kelompok. Pertanggungjawaban individu hanya akan terjadi jika kinerja tiap individu dinilai dan hasilnya diberikan kembali ke kelompok dan individu yang bersangkutan guna memastikan anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau penguatan belajar. 
Ø Pengembangan kecakapan interpersonal
Perlu disadari bahwa kecakapan sosial tidak secara spontan tampak ketika pembelajaran kolaboratif dilaksanakan. Kecakapan sosial seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan membuat keputusan, membangun kepercayaan, berkomunikasi, dan managemen konflik diharapkan dapat terbetuk melalui pembelajaran kolaboratif yang kontinu dan berkesinambungan.
Ø Pembentukan kelompok heterogen
Pembentukan kelompok dilakukan dengan mempertimbangkan agar setiap anggota dapat berdiskusi sehingga mencapai tujuan mereka dan membangun hubungan kerja yang efektif. Dalam pembentukan kelompok perlu dideskripsikan tugas setiap anggota kelompok. Terdapat beberapa prinsip dalam pembentukan kelompok kolaboratif, di antaranya perlunya mengakomodasi heterogenitas siswa, seperti mengkombinasikan siswa yang pendiam dengan siswa yang relatif mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan optimistis, siswa yang mempunyai motivasi tinggi dan rendah diri.
Ø Berbagi pengetahuan antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, diyakini pengetahuan mengalir hanya dari guru ke siswa. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam pembelajaran
kolaboratif, guru menghargai dan mengembangkan pembelajaran berdasarkan pengetahuan, pengalaman pribadi, strategi, dan budaya yang dibawa siswa.
Ø Berbagi otoritas antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, menetapkan tujuan pembelajaran, mendesain tugastugas belajar, dan menilai (mengevaluasi) apa yang telah dipelajari siswa menjadi otoritas guru secara dominan. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam kelas kolaboratif, guru berbagi oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Guru melibatkan siswa secara aktif dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian tugas-tugas, dan evaluasi ketercapaian tujuan belajar.
Ø Guru sebagai mediator
Dalam pembelajaran kolaboratif, guru berperan sebagai mediator. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, membantu siswa menggambarkan mengenai apa yang harus dikerjakan ketika mereka mengalami masalah, dan membantu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).

4. Evaluasi Pembelajaran Kolaboratif
Tidak mudah untuk mengevaluasi pembelajaran kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan  terhadap banyak aspek, tidak hanya pada hasil belajar kognitif. Sebagai contoh, evaluasi  dapat dilakukan terhadap kemampuan siswa berdikusi. Karena memiliki keterbatasan  pengamatan, guru dapat memilih peer evaluation (penilaian teman sebaya). Setiap siswa  harus menilai teman sekelomponya terhadap beberapa aspek.

         5.      Kelebihan dan Kekurangan Model Kolaboratif
a.      Kelebihan
               
1) melatih rasa peduli, perhatian dan kerelaan untuk berbagi,
2) meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain,
3) melatih kecerdasan emosional,
4) mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi,
5) mengasah kecerdasan interpersonal,
6) melatih kemampuan bekerja sama, team work,
7) murid tidak malu bertanya kepada temannya sendiri,
8) meningkatkan motivasi dan suasana belajar.
b.      Kelemahan 
1)    Murid yang lebih pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari proses belajar ini, akan merasa sangat dirugikan karena harus repot-repot membantu temannya.
2)    Murid ini juga akan merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan oleh prestasi atau pencapaian kelompoknya.
3)    Bila kerja sama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang pintar dan aktif saja.


B.       MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL : Contextual Teaching and Learning)
            Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Konstekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Conzmunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Aunthentic Assesment) (Darmadi, 2017:341)
Beberapa karakteristik Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning (Sihono,200:80);
a. Kerjasama
b. Saling menunjang
c. Menyenangkan, tidak membosankan
d. Belajar dengan gairah
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai sumber
g. Siswa aktif
h. Sharing dengan teman
i. Siswa Kritis, dan Guru Kreatif
j. Dinding kelas & lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain sebagainya
k. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.

            2.      Komponen Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
a.      Constructivism (Konstruktivisme)
Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperkuat melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba. Dalam konteks pembelajaran, konstruktivisme lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam menemukan pemahaman mereka sendiri daripada kemampuan menghafal teori-teori yang ada dalam buku pelajaran saja. Pada umumnya cara menerapkan komponen ini dalam pembelajaran adalah dengan merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, menciptakan ide dan lain sebagainya.



b. Inquiry (Menemukan)
Menemukan merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis CTL, artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Inkuiri merupakan proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, dalam proses ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memperoleh seperangkat pengetahuan. Untuk merealisasikan komponen inkuiri di kelas, terutama dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal siswa, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Siklus inkuiri pada umumnya meliputi: observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (collecting data), dan penyimpulan (conclusion).

c. Questioning (Bertanya)
Semua ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Salah satu faktor psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar adalah adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki apa yang ada dalam kehidupan di dunia yang lebih luas. Bertanya merupakan kegiatan yang sangat pokok dan mendasar bagi guru maupun siswa dalam pembelajaran berbasis CTL. Bertanya merupakan kegiatan utama dari semua aktivitas belajar, karena dengan kegiatan bertanya guru dapat memotivasi bahkan bisa menilai sejauh mana keberanian dan kemampuan berpikir seorang siswa dalam mengkonstruk pengetahuan dan pemahaman yang ingin didapatkannya.
Sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya adalah hal penting yang perlu dilakukan dalam pembelajaran berbasis CTL, yakni untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan me ngarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Kegiatan bertanya merupakan interaksi majemuk (multiple interactions) antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan orang berpengetahuan lainnya. Aktivitas-aktivitas tesebut dapat terlihat jelas pada saat diskusi, kegiatan dalam komunitas/masyarakat belajar, bekerja secara berpasangan (work in pairs or in group)dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran, kegiatan questioning memiliki banyak sekali kegunaan diantarnya adalah untuk:
1) menggali informasi, baik yang bersifat administrasi maupun akademis
2) mengecek tingkat pemahaman siswa
3) membangkitkan respon siswa
4) mengukur sejauh mana rasa keingintahuan siswa
5) mengetahui hal-hal yang belum diketahui siswa
6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
7) memberikan stimulus agar siswa bisa memiliki pertanyaan-pertanyaan yang kreatif, menarik dan menantang
8) menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

d. Learning Community/Society (Kelompok/Masyarakat belajar)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak ditopang oleh komunikasi dengan orang lain. Begitu juga dalam kehidupan, suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan dan peran orang lain yakni dalam bentuk kerjasama, saling memberi dan menerima. Learning community/society adalah kelompok manusia yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yang membuat mereka bisa saling bertukar ide dan pengetahuan untuk memperdalam pemahaman terhadap pengetahuan yang mereka miliki. Konsep ini didasarkan pada sebuah gagasan bahwa hasil pembelajaran yang dicapai dengan kerjasama/teamwork akan jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil pencapaian individu.
Hasil belajar dalam proses learning community dapat diperoleh dengan carasharing antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagikan pengalamannya pada orang lain, juga melalui informasi yang didapat di ruang kelas, luar kelas, keluarga, serta masyarakat di lingkungan sekitar yang merupakan bagian dari komponen masyarakat belajar. Dalam kelas CTL, learning community terlihat saat siswa belajar secara berkelompok. Pada umumnya siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen, baik dari segi kemampuan akademisnya, jenis kelamin, asal daerah, dan lain sebagainya.
e. Modelling (Pemodelan)
Modelling atau pemodelan adalah sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, dengan menyediakan model yang bisa diamati dan ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru fisika memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, guru bahasa mengajarkan bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagianya. Dalam kelas CTL, kegiatan modelling tidak menjadikan guru sebagai satusatunya model dalam belajar, tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan untuk memperagakan/mendemonstrasikan sesuatu di depan kelas kepada teman-temannya, seorang ahli yang didatangkan di kelas, media belajar dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang semakin berkembang dan beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang memiliki kemampuan lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka kini guru bukan lagi satu-satunua sumber belajar bagi siswa, karean dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatsan yang dimiliki oleh para guru (Rusman, 2017:328).

f. Reflection (Refleksi)
Refleksi berarti upaya think back (berpikir ke belakang) atau kegiatan flash back, yakni berpikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu, dan berpikir tentang apa yang baru dipelajari dalam sebuah pembelajaran oleh siswa (Risman,2017: 328). Dalam hal ini siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan kata lain, refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

            g. Authentic Assessment (Penilaian Sebenarnya)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pengetahuan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran kemajuan belajar siswa, diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka penilaian autentik tidak hanya dilakukan di akhir periode (akhir semester) tetapi dilakukan secara terintegrasi dan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang terkumpul harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.


          3.     Kelebihan dan Kekurangan CTL (Contextual Teaching and Learning)
    a. Kelebihan
1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna
Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih produktif
Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal

b. Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka baik guru maupun siswa perlu melakukan upaya berikut:
1) Bagi Guru
        Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi perbedaan individu siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.
2) Bagi Siswa
       Diperlukan inisiatif dan kreativitas dalam belajar, diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas – tugas.




RUANG DISKUSI
(yoo ayoo berdiskusi Guys)

1)   Pada saat kita menggunakan Model Pembelajaran Koloboratif, Bila kerja sama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang pintar dan aktif saja. Langkah-langkah apasaja yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut ?

2)      Ketika seorang guru ingin menerapkan model pembelajaran kolaboratif  dan model kontekstual hal apa saja yang perlu diperhatikan agar model tersebut dapat terlaksana dengan semestinya?

3)       Diantara kedua model tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi sarana dan prasarana sekolah yang terbatas?

DAFTAR RUJUKAN

16 komentar:

  1. Berdasarkan ulasan saudari diatas, saya sangat tertarik utk menanggapi pertanyaan yg no.1, baiklah disini saya akan mencoba utk memberi solusi terhadap permasalahan point 1 diatas, adapun langkah"nya sbb :
    1. Dibentuknya ketua kelompok
    2. Masing" anggota kelompok mendapatkan pembagian materi bahasan
    3. Waktu persentase sebaiknya dibagi juga poin per point, masing" anggota mempersentasekan materi yg dibuatnya
    4. Ada anggota yg bertugas utk menjawab pertanyaan
    5. Ada anggota yg menjadi notulensi
    6. Ada anggota yg menjadi moderator sekaligus menyimpulkan dr materi pembelajaran yg dilaksanakan hari itu.
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sdr roni hadika putra. Sangat bermanfaat.
      Karen pada saat berdiskusi hal yang seperti itu sangat sering sy temui pada siswa.

      Hapus
    2. saya setuju dengan saudara roni bahwa solusi terhadap masalah aau langkah langkah yaitu dibentuknya ketua kelompok masing-masing anggota kelompo mendapatkan pembagian materi

      Hapus
  2. uraian yang sangat menarik.
    saya akan menanggapi pertanyaan sdri.wilda yang no.3.
    Diantara kedua model tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi sarana dan prasarana sekolah yang terbatas?
    -menurut saya, kedua-dua model tersebut dapat efektif tanpa sarana dan prasarana yang memadai, karna disini pendidik hanya sebagai falisitator, jadi tujuan pembelajaran siswa dapat tercapai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan pernyataan saudari Nurfitri. Kedua nya efektif digunakan. Karena sarana dan prasarana terbatas kita bisa memanfaat lingkungan sebagai objek pembelajaran. Terima kasih

      Hapus
  3. Sedikit tanggapan dari saya untuk pertanyaan no 1 mungkin perlu adanya pembagian kelompok yang di khususkan semisal siswa yang aktif hanya dengan siswa yang aktif saja begitu pun sebaliknya..mungkin dengan begitu siswa yang kurang aktif akan berusaha maksimal untuk memberikan ulasan hasil diskusi kelompok saat presentasi..
    Terimakasih

    BalasHapus
  4. Sedikit tanggapan dari saya untuk pertanyaan no 1 mungkin perlu adanya pembagian kelompok yang di khususkan semisal siswa yang aktif hanya dengan siswa yang aktif saja begitu pun sebaliknya..mungkin dengan begitu siswa yang kurang aktif akan berusaha maksimal untuk memberikan ulasan hasil diskusi kelompok saat presentasi..
    Terimakasih

    BalasHapus
  5. Sya akan menanggapi pertnyaan no 3 mana model pembelajaran yg lebih efektif untk digunakan. Kedua model tersebut dpt digunakan krn pada model pembelajaran kontekstual itu sendiri merupakan pembeljaran yg mengaitkan dng kehidupan nyata sehingga tnpa ad prasarana yg lengkap pun siswa tetap bisa belajar, misalnya pada materi jamur atau lumut, siswa bisa lngsung mengamati disekitar lingkungan mereka. Pada model pembeljaran kolaboratif pun tetap bisa dilaksanakan ,misalnya pada materi jamur atau lumut, siswa bisa secara lngsung melihat dan berdiskusi serta memahami materi yg diberikan, dan siswa bisa berpikir kritis dan saling mngeluarkan pendapat masing-masing pda kelompoknya nya.

    BalasHapus
  6. Saya mencoba menanggapi permasalahan yg ke 3 yaitu model manakah yg lebih efektif jika situasi sarana dan prasarana di sekolah terbatas !
    Menurut saya kedua model tersebut efektif. Suatu model pembelajaran akan efektif dlm suasana belajar mengajar apabila model tersebut sesuai dgn kondisi dan materi yg akan diajarkan. Yg berperan penting dlm model kontekstual dan kolaboratif adalah siswa dan guru.
    Tidak ada model yang paling baik yang ada hanyalah bagaimana cara seorang pendidik mampu menyesuaikan materi dan melihat kondisi peserta didik untuk menerapkan model pembelajaran yang paling cocok untuk peserta didik.

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum wr wb....
    Penjelasan yang anda sampaikan diatas sudah Bagus, dan saya ingin menanggapi pertanyaan nomor 3. Dari 2 model pembelajaran tersebut menurut saya keduanya efektif digunakan walaupun dalam keadaan sarana dan prasara yang terbatas. Karena dari penjelasan diatas sudah dijelaskan bahawa model pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang mengkaitkan dengan konteks dunia nyata sehingga walaupun disekolah tidak lengkapnya sarana dan prasara siswa/i tersebut dalam mempelajari nya dalam kehidupan disekitarnya seperti di rumah juga bisa, di lingkungan sekitar, keluarga, masyarakat dll... . Begitu juga dengan model pembelajaran kolaboratife yang menuntut siswa untuk bisa belajar secara berkelompok dan diskusi. Dengan sarana yang minim dan terbatas siswa/i dapat mendiskusikan apa saja kendalanya apa saja yg mereka dapat. Dan intinya balik lagi ke materi apa yg diberikan untuk dapat menggunakan kedua model pembelajaran tersebut.
    Terimakasih

    BalasHapus
  8. Untuk mengatasi kendala ke aktifan anak, maka guru harus menjalankan tugasnya sebagai motivator. Guru harus memikirkan bagaimana pembelajaran bisa berjalan sesuai dgn semestinya

    BalasHapus
  9. Assalamu alaikum...
    Untuk langkah yang harus dilakukan guru agar proses kerja kelompok berjalan lancar adalah guru harus terus memberikan motivasi diselah-selah diskusi, guru memonitor seluruh kegiatan diskusi, memberikan apresiasi, dan ajarkan anak jika salah bukan masalah.

    BalasHapus
  10. pertanyaan no 1.guru harus bisa memonitor siswa-siswa yang dikenali pasif dalam pembelajaran agar terlibat dalam kelompok.kemudian meberikan kesempatan lebih bnyak kepada siswa pasif untuk mengeluarkan pendapatnya tentang materi diskusi

    BalasHapus
  11. Saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang model kontekstual dan model kolaboratif berpengaruh terhadap sarana dan prasarana yaitu tidak terlalu berpengaruh terhadap pembelajaran karena model kontekstual dipengaruhi oleh konteks dunia nyata sedangkan kalau model kolaboratif berpengaruh terhadap kelompok.

    BalasHapus
  12. mengenai pertanyaan nomor satu
    untuk mengatasi siwa yang tidak ikut terlibat dalam penyelesaian tugas kelompok. guru perlu merencanakan kelompok dengan jumlah anggota yang sesuai dengan beban tugas yang akan dilakukan. desain agar setiap anggota kelompok memiliki tugas dan anggung jawab pribadi yang akan digabungkan dengan hasil kerja anggota lain dalam kelompoknya

    BalasHapus
  13. Saya setuju dengan pendapat sdri kak novrina ..

    BalasHapus

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS (pascasarjanaunja)

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan sua...