MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF DAN KONTEKSTUAL
A. MODEL PEMBELAJARAN
KOLABORATIF
1. Pengertian Model
Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif didefenisikan sebagai
falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar
bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru
bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak menyetir
kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Menurut Deutch dalam Mahmudi (2006:61), pembelajaran
kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa
yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus,
Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran
yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja
bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama.
Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota
kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan
tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.
2. Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
Ø Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar
dan membagi tugas sendiri-sendiri.
Ø Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan
menulis.
Ø Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi
mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan
jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan
sendiri.
Ø Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil
pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara
lengkap.
Ø Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak
(selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk
melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas,
siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi
tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30
menit.
Ø Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif
melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan
yang akan dikumpulan.
Ø Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang
telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
Ø Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
3. Karakteristik
Pembelajaran Kolaboratif
Beberapa karakteristik
pembelajaran kolaboratif, yakni:
Ø Ketergantungan positif
Ketergantungan yang positif antarsiswa dalam suatu
kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang positif. Ketergantungan
positif akan terjadi jika setiap anggota kelompok menyadari bahwa seseorang
tidak dapat berhasil tanpa melibatkan keberhasilan anggota lainnya.
Ø Interaksi
Interaksi antaranggota kelompok menjadi demikian
penting karena terdapat aktivitasaktivitas kognitif penting dan kecakapan
interpersonal yang dinamis hanya terjadi jika terdapat interaksi yang dinamis.
Aktivitas kognitif dan kecakapan interpersonal yang dinamis itu dapat dicapai
melalui berbagai aktivitas seperti mempresentasikan hasil diskusi, berbagi
pengetahuan dengan anggota kelompok lain, dan mengecek pemahaman. Adanya
interaksi antaranggota kelompok memungkinkan terwujudnya sistem dukungan
akademik, yakni setiap anggota mepunyai komitmen untuk membantu anggota
kelompok lain.
Ø Pertanggungjawaban
individu dan kelompok
Dalam pembelajaran kolaboratif, tidak hanya
keberhasilan kelompok saja yang menjadi perhatian, namun keberhasilan
setiap anggota kelompok sangat dipentingkan. Pembelajaran kolaboratif juga
dimaksudkan untuk membuat siswa kuat secara individual. Kelompok harus
bertanggung jawab dalam hal pencapaian tujuan dan masing-masing anggota
kelompok harus bertanggungjawab terhadap kontribusinya dalam kelompok.
Pertanggungjawaban individu hanya akan terjadi jika kinerja tiap individu
dinilai dan hasilnya diberikan kembali ke kelompok dan individu yang
bersangkutan guna memastikan anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau
penguatan belajar.
Ø Pengembangan kecakapan
interpersonal
Perlu disadari bahwa kecakapan sosial tidak secara
spontan tampak ketika pembelajaran kolaboratif dilaksanakan. Kecakapan sosial
seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan membuat keputusan, membangun
kepercayaan, berkomunikasi, dan managemen konflik diharapkan dapat terbetuk
melalui pembelajaran kolaboratif yang kontinu dan berkesinambungan.
Ø Pembentukan kelompok heterogen
Pembentukan kelompok dilakukan dengan mempertimbangkan
agar setiap anggota dapat berdiskusi sehingga mencapai tujuan mereka dan
membangun hubungan kerja yang efektif. Dalam pembentukan kelompok perlu
dideskripsikan tugas setiap anggota kelompok. Terdapat beberapa prinsip dalam
pembentukan kelompok kolaboratif, di antaranya perlunya mengakomodasi
heterogenitas siswa, seperti mengkombinasikan siswa yang pendiam dengan siswa
yang relatif mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan optimistis, siswa
yang mempunyai motivasi tinggi dan rendah diri.
Ø Berbagi pengetahuan
antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, diyakini pengetahuan
mengalir hanya dari guru ke siswa. Tidak demikian halnya pada pembelajaran
kolaboratif. Dalam pembelajaran
kolaboratif, guru menghargai dan mengembangkan
pembelajaran berdasarkan pengetahuan, pengalaman pribadi, strategi, dan budaya
yang dibawa siswa.
Ø Berbagi otoritas
antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, menetapkan tujuan
pembelajaran, mendesain tugastugas belajar, dan menilai (mengevaluasi) apa yang
telah dipelajari siswa menjadi otoritas guru secara dominan. Tidak demikian
halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam kelas kolaboratif, guru berbagi
oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Guru melibatkan siswa secara
aktif dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian tugas-tugas, dan evaluasi
ketercapaian tujuan belajar.
Ø Guru sebagai mediator
Dalam pembelajaran kolaboratif, guru berperan sebagai
mediator. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru
dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, membantu siswa menggambarkan
mengenai apa yang harus dikerjakan ketika mereka mengalami masalah, dan
membantu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
4. Evaluasi
Pembelajaran Kolaboratif
Tidak mudah untuk
mengevaluasi pembelajaran kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan terhadap
banyak aspek, tidak hanya pada hasil belajar kognitif. Sebagai contoh, evaluasi
dapat dilakukan terhadap kemampuan siswa berdikusi. Karena memiliki
keterbatasan pengamatan, guru dapat memilih peer evaluation (penilaian
teman sebaya). Setiap siswa harus menilai teman sekelomponya terhadap
beberapa aspek.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model
Kolaboratif
a. Kelebihan
1) melatih rasa
peduli, perhatian dan kerelaan untuk berbagi,
2) meningkatkan rasa
penghargaan terhadap orang lain,
3) melatih kecerdasan
emosional,
4) mengutamakan
kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi,
5) mengasah kecerdasan
interpersonal,
6) melatih kemampuan
bekerja sama, team work,
7) murid tidak malu
bertanya kepada temannya sendiri,
8) meningkatkan
motivasi dan suasana belajar.
b. Kelemahan
1) Murid yang lebih
pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari proses belajar ini,
akan merasa sangat dirugikan karena harus repot-repot membantu temannya.
2) Murid ini juga akan
merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan oleh prestasi atau
pencapaian kelompoknya.
3) Bila kerja sama tidak
dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid
yang pintar dan aktif saja.
B. MODEL PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL
: Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi
pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik
dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga
siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
Konstekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme
(Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat
belajar (Learning Conzmunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian sebenarnya (Aunthentic Assesment) (Darmadi, 2017:341)
Beberapa karakteristik
Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning (Sihono,200:80);
a. Kerjasama
b. Saling menunjang
c. Menyenangkan, tidak
membosankan
d. Belajar dengan
gairah
e. Pembelajaran
terintegrasi
f. Menggunakan
berbagai sumber
g. Siswa aktif
h. Sharing dengan
teman
i. Siswa Kritis, dan
Guru Kreatif
j. Dinding kelas & lorong-lorong
penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain
sebagainya
k. Laporan kepada
orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.
2. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh komponen
utama dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. Constructivism (Konstruktivisme)
Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir pendekatan
CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperkuat melalui konteks yang terbatas (sempit) dan
tidak tiba-tiba. Dalam konteks pembelajaran, konstruktivisme lebih menekankan pada
aktivitas siswa dalam menemukan pemahaman mereka sendiri daripada
kemampuan menghafal teori-teori yang ada dalam buku pelajaran saja.
Pada umumnya cara menerapkan komponen ini dalam pembelajaran adalah dengan
merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu,
berlatih secara fisik, menulis karangan, menciptakan ide dan lain sebagainya.
b. Inquiry (Menemukan)
Menemukan merupakan bagian inti dari pembelajaran
berbasis CTL, artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan
penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Inkuiri merupakan proses
perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, dalam proses ini siswa belajar
menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memperoleh seperangkat
pengetahuan. Untuk merealisasikan komponen inkuiri di kelas, terutama dalam
proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus
dihafal siswa, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Siklus inkuiri pada umumnya
meliputi: observasi (observation), bertanya (questioning),
mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (collecting data),
dan penyimpulan (conclusion).
c. Questioning (Bertanya)
Semua ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu
bermula dari bertanya. Salah satu faktor psikologi yang mendorong seseorang
untuk belajar adalah adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki apa yang ada
dalam kehidupan di dunia yang lebih luas. Bertanya merupakan kegiatan yang
sangat pokok dan mendasar bagi guru maupun siswa dalam pembelajaran berbasis
CTL. Bertanya merupakan kegiatan utama dari semua aktivitas belajar, karena
dengan kegiatan bertanya guru dapat memotivasi bahkan bisa menilai sejauh mana
keberanian dan kemampuan berpikir seorang siswa dalam mengkonstruk pengetahuan
dan pemahaman yang ingin didapatkannya.
Sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya adalah hal
penting yang perlu dilakukan dalam pembelajaran berbasis CTL, yakni untuk
menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan me
ngarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Kegiatan bertanya
merupakan interaksi majemuk (multiple interactions) antara guru
dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan
orang berpengetahuan lainnya. Aktivitas-aktivitas tesebut dapat terlihat jelas
pada saat diskusi, kegiatan dalam komunitas/masyarakat belajar, bekerja secara
berpasangan (work in pairs or in group), dan lain
sebagainya. Dalam pembelajaran, kegiatan questioning memiliki
banyak sekali kegunaan diantarnya adalah untuk:
1) menggali informasi,
baik yang bersifat administrasi maupun akademis
2) mengecek tingkat
pemahaman siswa
3) membangkitkan
respon siswa
4) mengukur sejauh
mana rasa keingintahuan siswa
5) mengetahui hal-hal
yang belum diketahui siswa
6) memfokuskan
perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
7) memberikan stimulus agar siswa bisa memiliki pertanyaan-pertanyaan yang
kreatif, menarik dan menantang
8) menyegarkan kembali
pengetahuan siswa.
d. Learning
Community/Society (Kelompok/Masyarakat belajar)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia,
menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak ditopang oleh komunikasi
dengan orang lain. Begitu juga dalam kehidupan, suatu permasalahan tidak
mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan dan peran orang
lain yakni dalam bentuk kerjasama, saling memberi dan menerima. Learning
community/society adalah kelompok manusia yang terlibat dalam kegiatan
pembelajaran, yang membuat mereka bisa saling bertukar ide dan pengetahuan
untuk memperdalam pemahaman terhadap pengetahuan yang mereka miliki. Konsep ini
didasarkan pada sebuah gagasan bahwa hasil pembelajaran yang dicapai dengan
kerjasama/teamwork akan jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil
pencapaian individu.
Hasil belajar dalam proses learning
community dapat diperoleh dengan carasharing antar teman,
antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang
pernah memiliki pengalaman membagikan pengalamannya pada orang lain, juga
melalui informasi yang didapat di ruang kelas, luar kelas, keluarga, serta
masyarakat di lingkungan sekitar yang merupakan bagian dari komponen masyarakat
belajar. Dalam kelas CTL, learning community terlihat saat siswa
belajar secara berkelompok. Pada umumnya siswa dibagi dalam kelompok yang
anggotanya heterogen, baik dari segi kemampuan akademisnya, jenis kelamin, asal
daerah, dan lain sebagainya.
e. Modelling (Pemodelan)
Modelling atau pemodelan adalah
sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, dengan menyediakan
model yang bisa diamati dan ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru fisika
memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, guru bahasa
mengajarkan bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga
memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagianya. Dalam
kelas CTL, kegiatan modelling tidak menjadikan guru sebagai
satusatunya model dalam belajar, tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang
dianggap memiliki kemampuan untuk memperagakan/mendemonstrasikan sesuatu di
depan kelas kepada teman-temannya, seorang ahli yang didatangkan di kelas,
media belajar dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, rumitnya
permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang semakin berkembang dan
beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang memiliki kemampuan
lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka kini guru bukan
lagi satu-satunua sumber belajar bagi siswa, karean dengan segala kelebihan dan
keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen.
Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk
mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara
menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatsan yang dimiliki oleh para guru
(Rusman, 2017:328).
f. Reflection (Refleksi)
Refleksi berarti upaya think back (berpikir
ke belakang) atau kegiatan flash back, yakni berpikir tentang apa
yang sudah dilakukan di masa lalu, dan berpikir tentang apa yang baru
dipelajari dalam sebuah pembelajaran oleh siswa (Risman,2017: 328). Dalam hal
ini siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan
yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan kata lain,
refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang
baru diterima.
g. Authentic
Assessment (Penilaian Sebenarnya)
Assessment adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pengetahuan
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui
oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan
benar. Gambaran kemajuan belajar siswa, diperlukan sepanjang proses
pembelajaran, maka penilaian autentik tidak hanya dilakukan di akhir periode
(akhir semester) tetapi dilakukan secara terintegrasi dan secara terus-menerus
selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan menekankan
pada proses pembelajaran, maka data yang terkumpul harus diperoleh dari
kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
3. Kelebihan dan
Kekurangan CTL (Contextual Teaching and Learning)
a. Kelebihan
1) Pembelajaran
menjadi lebih bermakna
Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat
penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih
produktif
Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme,
yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami
bukan menghafal
b. Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah
orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar
tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada
dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif. Untuk mengatasi
kelemahan tersebut maka baik guru maupun siswa perlu melakukan upaya berikut:
1) Bagi Guru
Guru harus memiliki kemampuan
untuk memahami secara mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi
perbedaan individu siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang
berorientasi kepada aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta
kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.
2) Bagi Siswa
Diperlukan inisiatif dan
kreativitas dalam belajar, diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang
memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi
persoalan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas –
tugas.
RUANG DISKUSI
(yoo ayoo berdiskusi
Guys)
1) Pada saat kita
menggunakan Model Pembelajaran Koloboratif, Bila kerja sama tidak dapat
dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang
pintar dan aktif saja. Langkah-langkah apasaja yang bisa kita lakukan untuk
mengatasi hal tersebut ?
2) Ketika seorang guru
ingin menerapkan model pembelajaran kolaboratif dan model kontekstual hal
apa saja yang perlu diperhatikan agar model tersebut dapat terlaksana dengan
semestinya?
3) Diantara kedua model
tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi sarana dan
prasarana sekolah yang terbatas?
DAFTAR RUJUKAN
Berdasarkan ulasan saudari diatas, saya sangat tertarik utk menanggapi pertanyaan yg no.1, baiklah disini saya akan mencoba utk memberi solusi terhadap permasalahan point 1 diatas, adapun langkah"nya sbb :
BalasHapus1. Dibentuknya ketua kelompok
2. Masing" anggota kelompok mendapatkan pembagian materi bahasan
3. Waktu persentase sebaiknya dibagi juga poin per point, masing" anggota mempersentasekan materi yg dibuatnya
4. Ada anggota yg bertugas utk menjawab pertanyaan
5. Ada anggota yg menjadi notulensi
6. Ada anggota yg menjadi moderator sekaligus menyimpulkan dr materi pembelajaran yg dilaksanakan hari itu.
Terimakasih
Terimakasih sdr roni hadika putra. Sangat bermanfaat.
HapusKaren pada saat berdiskusi hal yang seperti itu sangat sering sy temui pada siswa.
saya setuju dengan saudara roni bahwa solusi terhadap masalah aau langkah langkah yaitu dibentuknya ketua kelompok masing-masing anggota kelompo mendapatkan pembagian materi
Hapusuraian yang sangat menarik.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan sdri.wilda yang no.3.
Diantara kedua model tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi sarana dan prasarana sekolah yang terbatas?
-menurut saya, kedua-dua model tersebut dapat efektif tanpa sarana dan prasarana yang memadai, karna disini pendidik hanya sebagai falisitator, jadi tujuan pembelajaran siswa dapat tercapai.
Setuju dengan pernyataan saudari Nurfitri. Kedua nya efektif digunakan. Karena sarana dan prasarana terbatas kita bisa memanfaat lingkungan sebagai objek pembelajaran. Terima kasih
HapusSedikit tanggapan dari saya untuk pertanyaan no 1 mungkin perlu adanya pembagian kelompok yang di khususkan semisal siswa yang aktif hanya dengan siswa yang aktif saja begitu pun sebaliknya..mungkin dengan begitu siswa yang kurang aktif akan berusaha maksimal untuk memberikan ulasan hasil diskusi kelompok saat presentasi..
BalasHapusTerimakasih
Sedikit tanggapan dari saya untuk pertanyaan no 1 mungkin perlu adanya pembagian kelompok yang di khususkan semisal siswa yang aktif hanya dengan siswa yang aktif saja begitu pun sebaliknya..mungkin dengan begitu siswa yang kurang aktif akan berusaha maksimal untuk memberikan ulasan hasil diskusi kelompok saat presentasi..
BalasHapusTerimakasih
Sya akan menanggapi pertnyaan no 3 mana model pembelajaran yg lebih efektif untk digunakan. Kedua model tersebut dpt digunakan krn pada model pembelajaran kontekstual itu sendiri merupakan pembeljaran yg mengaitkan dng kehidupan nyata sehingga tnpa ad prasarana yg lengkap pun siswa tetap bisa belajar, misalnya pada materi jamur atau lumut, siswa bisa lngsung mengamati disekitar lingkungan mereka. Pada model pembeljaran kolaboratif pun tetap bisa dilaksanakan ,misalnya pada materi jamur atau lumut, siswa bisa secara lngsung melihat dan berdiskusi serta memahami materi yg diberikan, dan siswa bisa berpikir kritis dan saling mngeluarkan pendapat masing-masing pda kelompoknya nya.
BalasHapusSaya mencoba menanggapi permasalahan yg ke 3 yaitu model manakah yg lebih efektif jika situasi sarana dan prasarana di sekolah terbatas !
BalasHapusMenurut saya kedua model tersebut efektif. Suatu model pembelajaran akan efektif dlm suasana belajar mengajar apabila model tersebut sesuai dgn kondisi dan materi yg akan diajarkan. Yg berperan penting dlm model kontekstual dan kolaboratif adalah siswa dan guru.
Tidak ada model yang paling baik yang ada hanyalah bagaimana cara seorang pendidik mampu menyesuaikan materi dan melihat kondisi peserta didik untuk menerapkan model pembelajaran yang paling cocok untuk peserta didik.
Assalamualaikum wr wb....
BalasHapusPenjelasan yang anda sampaikan diatas sudah Bagus, dan saya ingin menanggapi pertanyaan nomor 3. Dari 2 model pembelajaran tersebut menurut saya keduanya efektif digunakan walaupun dalam keadaan sarana dan prasara yang terbatas. Karena dari penjelasan diatas sudah dijelaskan bahawa model pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang mengkaitkan dengan konteks dunia nyata sehingga walaupun disekolah tidak lengkapnya sarana dan prasara siswa/i tersebut dalam mempelajari nya dalam kehidupan disekitarnya seperti di rumah juga bisa, di lingkungan sekitar, keluarga, masyarakat dll... . Begitu juga dengan model pembelajaran kolaboratife yang menuntut siswa untuk bisa belajar secara berkelompok dan diskusi. Dengan sarana yang minim dan terbatas siswa/i dapat mendiskusikan apa saja kendalanya apa saja yg mereka dapat. Dan intinya balik lagi ke materi apa yg diberikan untuk dapat menggunakan kedua model pembelajaran tersebut.
Terimakasih
Untuk mengatasi kendala ke aktifan anak, maka guru harus menjalankan tugasnya sebagai motivator. Guru harus memikirkan bagaimana pembelajaran bisa berjalan sesuai dgn semestinya
BalasHapusAssalamu alaikum...
BalasHapusUntuk langkah yang harus dilakukan guru agar proses kerja kelompok berjalan lancar adalah guru harus terus memberikan motivasi diselah-selah diskusi, guru memonitor seluruh kegiatan diskusi, memberikan apresiasi, dan ajarkan anak jika salah bukan masalah.
pertanyaan no 1.guru harus bisa memonitor siswa-siswa yang dikenali pasif dalam pembelajaran agar terlibat dalam kelompok.kemudian meberikan kesempatan lebih bnyak kepada siswa pasif untuk mengeluarkan pendapatnya tentang materi diskusi
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang model kontekstual dan model kolaboratif berpengaruh terhadap sarana dan prasarana yaitu tidak terlalu berpengaruh terhadap pembelajaran karena model kontekstual dipengaruhi oleh konteks dunia nyata sedangkan kalau model kolaboratif berpengaruh terhadap kelompok.
BalasHapusmengenai pertanyaan nomor satu
BalasHapusuntuk mengatasi siwa yang tidak ikut terlibat dalam penyelesaian tugas kelompok. guru perlu merencanakan kelompok dengan jumlah anggota yang sesuai dengan beban tugas yang akan dilakukan. desain agar setiap anggota kelompok memiliki tugas dan anggung jawab pribadi yang akan digabungkan dengan hasil kerja anggota lain dalam kelompoknya
Saya setuju dengan pendapat sdri kak novrina ..
BalasHapus