Jumat, 19 Oktober 2018

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS (pascasarjanaunja)

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses belajar mengajar  dan hasil-hasil belajar.
          Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), semua aspek penilaian meliputi : pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA; keterampilan dan proses; dan  karakter dan sikap (sikap ilmiah). Sehingga peserta didik betul-betul mendapatkan kesempatan untuk belajar IPA.
PENILAIAN PROSES BELAJAR
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitik beratkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Tindak lanjut dari penilaian proses pembelajaran jika memperoleh hasil yang kurang memuaskan, maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  Berarti seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara seagai solusi permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru. Berbeda halnya dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajar mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru, dan penilaian.
JENIS-JENIS PENILAI BERDASARKAN PERATURAN MENDIKNAS NO 20 TAHUN 2007
1.         Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
2.         Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk merigukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
3.         Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 - 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
4.         Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
5.         Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut.
6.         Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.
7.         Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
Kriteria Penilaian Proses
Penilaian proses belajar mengajar memiliki beberapa kriteria, dimana Kriteria ini penting sebagai tolok ukur keberhasilan proses belajar-mengajar.
1.    Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum.
Kurikulum adalah   program belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek:
a.Tujuan-tujuan pengajaran
b.Bahan pengajaran yang diberikan
c.Jenis kegiatan yang dilaksanakan
d.Cara melaksanakan setiap jenis kegiatan
e. Peralatan yang digunakan untuk masing-masing kegiatan
f. Penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan.
2. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat dilihat dalam hal :
            a.       Mengkodisikan kegiatan belajar siswa.
            b.     Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar.
            c.     Waktu yang disediakan untuk waktu belajar mengajar.
            d.     Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa.
e.      Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa.
f.      Menggeneralisasikan hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar   mengajar berikutnya.
3. Keterlaksanaannya oleh siswa
Dilihat sejauh mana siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti, hal ini mencakup:
a.        Memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
b.      Semua siswa turut melakukan kegiatan belajar.
c.      Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
d.      Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
e.      Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.
4. Motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditujukan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal :
a.        Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b.      Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya.
c.      Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
d.      Reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
e.      Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
       5.      Keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar
Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat dalam  hal :
a.          Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
b.       Terlibat dalam pemecahan masalah.
c.        Bertanya kepada teman atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi.
d.       Berusaha tahu mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
e.       Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
f.         Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
g.       Melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal yang sejenis.
h.       Kesempatan mengunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
        6.      Interaksi guru dan siswa
Interaksi guru dan siswa berkenaan dengan hubungan timbal balik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat:
a.        Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.
b.      Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual mupun secara kelompok.
c.       Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan sumber belajar.
d.      Senantiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator belajar.
e.      Tampilnya guru sebagai pemberi jalan eluar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya.
f.       Adanya kesempatan mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh siswa.
7. Kemampuan atau keterampilan guru mengajar
Keterampilan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru yang professional dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll. Beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain :
a.          Menguasai bahan pelajaran yang diajarkan kepada siswa.
b.       Terampil berkomunikasi dengan siswa.
c.        Menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas.
d.       Terampil mengunakan berbagai alat dan sumber belajar.
e.       Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan.
 8. Kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa
Salah satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
a.       Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.
b.     Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa.
c.       Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari jumlah intrusional yang harus dicapai.
d.     Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya.

DISKUSI YUK !!!!!
1. penilaian pemberian peringkat kepada peserta didik tidak lagi di laksanakan di sekolah, menurut anda apakah ada pengaruh positif dan negatif kepada siswa ?

2. Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang. lalu bagaimana kita menyikapi guru yang lebih mementingkan nilai dari aspek pengetahuan (koognitif) saja ?

18 komentar:

  1. Assalamu alaikum, artikelnya menarik,
    Baik saya akan bahas nomor 1 ada pengaruh diberikan peringkat, baik positif maupun negatifilihat dari segi positif, dengan adanya peringkat akan memacu semangat belajar dan guru akan lebih mudah mengelompokkan siswa agar kelas lebih homogen.
    Sedangkan dari segi negtif adalah mengabaian prestasi nonkademik, kecendrungan untuk memberikan label terhdapa anak pintar dan kurang pintar, serta anak akan tertekan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan masukan yang di berikan oleh ananda humairah farsa karna syogyanya suatu hal itu ada sisi negatif dan positifnya

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Salam hangat wilda..
    Saya setuju dengan pendapat humaira, pemberian peringkat kepada siswa punya dua sisi.. Di satu sisi, siswa akan terpacu untuk meningkatkan prestasi belajarnya, namun utk siswa yg peringkatnya rendah akan merasa minder atau tertekan...
    Kemudian dalam hal penilaian, perlunya peningkatan kompetensi guru dalam hal penilaian. Guru harus lebih memahami penilaian yg autentik, apabila disekolah bnyak guru yg belum memahami penilaian, alangkah baikn4tha jika sekolah melaksanakan kegiatan pelatihan bagi guru guru sehingga dapat melaksanakan penilaian sikap, paikomotor dan kognitif sesuai dengan standar prosedur penilaian yang benar

    BalasHapus
  3. Untuk menyikapi guru yg spt itu alangkah lebih baiknya kita sebagai mahasiswa laebih meningkatkan lagi pengetahuan dan wawasan kita utk saling mengingatkan kpd guru dan memberi gambaran bahwa aspek penilaian yg sesungguhnya itu ada 3 dalam pembelajaran, dg cara mengemukakan pandangan didalam diskusi dan mengemukakan pendapat saat pembelajaran berlangsung sehingga nantinya si guru tersebut akan sadar dg 3 aspek penilaian tersebut.itu menurut saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat roni, penilain tidak boleh hanya melihat pada satu sisi saja dan ada baiknya kita saling mengingatkan

      Hapus
    2. Setuju dengan pernyataan saudara Roni dan saudari Reni. Bahwa penilaian apektif.psikomotor.kognitif satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan.

      Hapus
  4. pertanyaan no 1 Ranking, sebagai salah satu bentuk data kuantitatif yang tertera di raport, dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dilihat dari prestasi seluruh siswa dalam kelas atau sekolahnya. Semakin tinggi nilai ranking yang diperoleh, idealnya dapat mencerminkan semakin tinggi pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Penekanan pada prestasi akademik semata pada saat penentuan ranking yang selama ini dilakukan, juga seringkali dianggap sebagai segi negatif dari adanya pemberian ranking. Karena hal ini dianggap mengabaikan prestasi-prestasi non akademik yang dimiliki siswa. Anak yang memiliki ranking tinggi atau dianggap pintar, bisa saja sebenarnya memiliki banyak kelemahan dalam bidang non akademis. Atau sebaliknya, seorang anak yang memiliki ranking rendah atau dianggap tidak pintar, belum tentu seorang tidak memiliki keunggulan atau kelebihan. Segi negatif lain dari pemberian ranking adalah adanya kecenderungan untuk memberi label pada anak. Pada anak yang memperoleh nilai ranking yang baik (misalnya 5 atau 10 besar), maka secara tidak langsung akan di”cap” pintar sehingga bukan tidak mungkin akan membuat anak menjadi sombong atau “overconfidence”. Walaupun demikian, pemberian ranking sebenarnya juga masih memiliki manfaat, misalnya bagi siswa dengan gaya belajar tertentu (menyukai tantangan), maka dengan adanya ranking bisa memacu semangat belajarnya. Selain itu, dengan adanya ranking, guru dapat lebih mudah untuk mengelompokkan siswa yang pintar dan kurang pintar sehingga kelas menjadi lebih homogen dan memudahkan guru untuk menyesuaikan metode pengajarannya dengan daya tangkap kelompok siswa tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan saudari bestia. Positif dari rangking mgkn menjadi penghargaan tersendiri bagi siswa yang merasa aktif di kelas dan belajar sungguh2 . Sedangkan negatif nya bagi siswa yang katagori kurang cerdas akan mendapatkan kesenjangan sosial .

      Hapus
  5. saya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang penilaian pemberian peringkat kepada peserta didik tidak lagi di laksanakan disekolah, dampak positif nya dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga siswa yang rendah peringat dapat termotivasi dengan yang memiliki peringkat, sehingga ada rasa ingin belajar yang tinggi.

    BalasHapus
  6. Sya sependapat dng tanggapan dri ka humairah, kalau dri segi negatif nya terkadng ad siswa yg pintar itu sombong atau cpt puas dng hasil yg di capai sehingga sering menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan dng teman"nya yg lain.

    BalasHapus
  7. Salam wilda,menurut saya pemberian ranking sangat berpengaruh bagi setiap siswa karena sistem penilaian masih saja mengarah pada nilai.
    Hanya saja tujuan pemberian ranking pada siswa untuk memberikan gambaran evaluasi diri pada siswa dan menambah semangat belajar.

    BalasHapus
  8. Salam wilda,menurut saya pemberian ranking sangat berpengaruh bagi setiap siswa karena sistem penilaian masih saja mengarah pada nilai.
    Hanya saja tujuan pemberian ranking pada siswa untuk memberikan gambaran evaluasi diri pada siswa dan menambah semangat belajar.

    BalasHapus
  9. Baiklah saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1....
    Menurut saya peringkat dapat memberikan dampak positif dan negatif , dampak positifnya siswasiswa /i menjadi lebih termotivasi lagi untuk menjadi yg nomor 1 dikelas, dan untuk dampak negatif nya siswa/i mejadi minder dan berkecil hati karena menjadi yg terbawah dan terendah

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju pendapat saudari novia bahwa peringkat dampak positif dan negatif siswa menjadi lebih termotivasi lagi untuk menjadi peringkat satu dikelas

      Hapus
  10. menegenai guru yang hanya mementingkan penilaian kognitif, guru yang demikian hanya mementingkan hasil tanpa memperdulikan proses. karena penilaian afektif dan psikomotor dapat dilakukan jika guru memperhatikan proses siswa dalam belajar

    BalasHapus
  11. seharusnya guru harus menilai psikomotr dan afektif juga
    jangan hanya kognitifnya saja

    BalasHapus
  12. Terimakasih untuk artikel yang bermanfaat ini, semoga terus memberi manfaat

    BalasHapus

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS (pascasarjanaunja)

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan sua...