Kamis, 20 September 2018

PARADIGMA PEMBELAJARAN ABAD 21

Bottom of Form
PARADIGMA 
PEMBELAJARAN ABAD 21

Perubahan dan perkembangan dalam setiap aspek kehidupan terus terjadi dengan cepat. Tidak ada satupun petunjuk pasti tentang apa yang akan terjadi dengan cara orang belajar dan apa yang harus dipelajari untuk kebutuhan masa mendatang. Kecenderungan terjadinya perubahan dalam segala aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan akan terus berlanjut. Meskipun aspek-aspek tertentu dalam bidang pendidikan dan pembelajaran akan tetap berlaku, namun beberapa aspek yang lain akan ikut mengalami perubahan dan perkembangan seiring dengan perkembangan bidang ilmu dan teknologi.
Pembelajaran yang baik pada abad ini harus mampu menjelaskan bagaimana seharusnya peserta didik belajar dan berpikir. Pembelajaran dalam abad ke 21 ini harus lebih dari sekedar menghafal fakta dan memahami konsep-konsep umum materi pelajaran seperti yang telah terjadi pada awal era perkembangan industri dan masih terus berlangsung di Indonesia sampai sekarang. Pada abad baru ini pembelajaran harus lebih dari sekedar bagaimana menjelaskan apa yang dipikirkan oleh guru, yaitu dengan memodelkan proses pembelajaran yang dialami guru sehingga peserta didik dapat mengamati dan mempelajari keterampilan proses, keterampilan meenyelesaikan masalah dan keterampilan berpikir ketika mempelajari suatu pengetahuan seperti yang dianggap cukup memadai pada era abad ke 20 yang telah kita lewati.

A.      Paradigma Baru Pendidikan
Untuk dapat membangun masyarakat terdidik yang cerdas serta mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ini, maka hal yang mendesak untuk dilakukan sekarang adalah menata kembali sistem pendidikan dan pembelajaran. Terkait dengan penataan sistem pembelajaran, maka guru harus berusaha menggeser paradigma pengelolaan pembelajaran dari yang dahulunya lebih berpusat pada guru (teacher centered) menjadi lebih berpusat pada peserta didik (student centered). Paradigma baru seperti ini, bermakna bahwa praktek pembelajaran harus diubah menjadi pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori-teori belajar yang berorientasi konstruktivistik.
Pembelajaran harus lebih difokuskan pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara terus menerus dan mendorong peserta didik untuk membangun pemahaman dan pengetahuan sendiri dalam konteks sosial dan budaya. Tugas belajar didesain sedemikian rupa oleh guru agar menantang dan menarik perhatian peserta didik sehingga pembelajaran akan dapat mengantarkan peserta didik untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Paradigma baru pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh setiap pendidik bidang sains adalah pembelajaran yang mendidik yakni pembelajaran yang memiliki karakteristik antara sebagai berikut.
a)          menekankan pentingnya proses membelajarkan bagaimana cara belajar
             (learning how to learn);
b)         mengutamakan strategi yang mendorong dan melancarkan  proses belajar
            peserta didik;
c)          dirancang untuk membantu peserta didik agar memperoleh  kecakapan
              mencari jawaban atau solusi atas suatu masalah;
d)         dirancang dan dilaksanakan  bukan untuk sekedar menyampaikan informasi
            langsung kepada peserta didik tetapi lebih menekankan pembelajaran  berbasis
            kompetensi dengan pendekatan kontekstual.
Melalui proses pembelajaran, guru dituntut untuk mampu membimbing dan memfasilitasi peserta didik agar mereka dapat memahami kekuatan serta kemampuan yang mereka miliki dan selanjutnya memberikan motivasi agar peserta didik terdorong untuk bekerja atau belajar sebaik mungkin untuk mewujudkan keberhasilan berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Untuk dapat memfa­silitasi agar peserta didik dapat lebih mengenal kemampuannya, maka langkah awal yang perlu dilakukan guru adalah berusaha mengenal peserta didiknya dengan baik. Guru perlu mengenal lebih mendalam tentang bakat, minat, motivasi, harapan-harapan peserta didik serta beberapa dimensi khusus kepribadiannnya.

B.      Tantangan Pembelajaran Abad ke-21
secara umum kita dapat memahami bahwa sesungguhnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa indonesia dewasa ini adalah bersifat multidimensi. Oeh karena itu,misi untuk mencerdasakan kehidupan bangsa masih tetap perlu diupayakan oleh setiap pendidik dan orang tua. Perlu pula dipikirkan tentang pendidikan seperti apakah yang mampu menunjang kebutuhan negara dan bangsa indonesia dalam menghadapi tantangan abad ini.
Pendidikan yang relevan dengan upaya menghadapi tantangan zaman yaitu pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi dan membentuk watak ynag relevan dengan upaya menghadapi tantangan zaman.pendidikan dan pembelajaran yang bermakna sebagai proses pemberdayaan kemampuan berfikir kritis dan berfikir kreatif,kemampuan menyelesaikan masalah ,kemampuan bekerja berdasarkan etos kerja yang baik,kemampuan meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek),dan membudayakan sikap mandiri,bertanggung jawab,demokratis,jujur ,dan bermoral. Pertanyaannya adalah model pembelajaran seperti apakan yang dapat bermakana sebagai proses pemberdayaan.
Kemampuan guru untuk menerapkan empat pilar pendidikan atau pilar belajar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk menguasai cara memperoleh pengetahuan,berkesempatan berinteraksi secara aktif sesama peserta didik sehingga dapat mengembangkan potensi diri dan menemukan jati dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat  berlangsung dengan difasilitasi oleh guru yang penuh konsentrasi,peralatan yang memadai,materi yang terpilih dan waktu yang cukup secara fleksibel.
Empat pilar pendidikan ditujukan agar proses pendidikan dapat menghadapi tantangan abad ke 21. Whitehead menyatakan bahwa  the nead for change from narrow nationalism to universalism,from ethnic to cultural prejudise to tolerance,understanding and pluralism,from autocracy to democracy its various manifastations,and from technologically divided world where high technology is privilage of the is privilage of the few to a technologically united  world.places enormous responsibilities on teacher  who participate in the moulding of the characiers and minds of the new generations” pernyataan tersebut menunjukkan ,betapa tingginya tuntutan terhadap peran yang diharapkan dari pendidikan dalam membentuk karakter dan mental generasi muda agar dapat melakukan transformasi budaya suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendidri republik indonesia ini sebagaimana tertuang dalam pembukaan  UUD 1945 (Soedijartono,2009).
Proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan cara untuk mengetahui (ways of knowing) ataupun pola inkuiri (mode of inquiry)memungkinkan peserta didik untuk terus belajar untuk memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan dari hasil temuan orang  lain.oleh karena itu hakikatnya belajar untuk mengetahui (learning to know) adalah proses pembelajaran yang memeungkinkan peserta didik untuk menguasai teknik mempelajari ilmu pengetahuan dan bukan semata – mata memperoleh pengetahuan. Menurut scheffler pilar ini pada hakikatnya terkait dengan relevansi epistemologi yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji.
Sasaran dari pilar pertama yakni learning to know adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan mengantarkan peserta didik pada ketercapaian keseimbangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun pilar kedua yaknilearning to do, sasarannya adalah kemampuan bekerja. Dalam komunitas masyarakat industri, tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan keterampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan intelektual yang handal untuk melaksanakan pekerjaan seperti controling, monitoring, maintaining, designing, organizing yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. Melalui konsep bekerja untuk melakukan, maka guru akan berperan dalam mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja yang penuh tantangan. Belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit dapat membantu peserta didik untuk tidak hanya menguasai keterampilan yang bersifat mekanistik saja melainkan akan mengantarkan mereka untuk menguasai kemampuan berkomunikasi. Bekerjasama, serta mengelola dan mengatasi konflik.
Penerapan pilar belajar untuk hidup bersama (learning to live together) menjadi bagian dari tugas pendidik yang bertujuan agar pada saat yang bersamaan peserta didik memperoleh dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Mendidik orang untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan menyadari adanya saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dalam waktu sesaat saja melainkan perlu dikembangkan melalui penciptaan situasi kebersamaan dalam waktu yang relatif lama. Paradigma pembelajaran kooperatif sebenarnya dikembangkan dalam rangka menunjang keberhasilan pilar belajar untuk hidup dan bekerjasama ini.
Dalam strategi pembelajaran kooperatif, peserta didik dikondisikan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok heterogen guna membahas pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang terkait dengan pelajaran yang dihadapinya. Strategi kooperatif dewasa ini sedang digalakkan dalam dunia pendidikan. Di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa serta Afrika (Slavin, 1995), strategi kooperatif sudah disosialisasikan melalui seminar, konferensi-konferensi, dan lokakarya serta penerbitan sejak akhir tahun 1980an. Menurut Pratt (2003), strategi kooperatif sangat penting untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis inkuiri, membimbing dan memfasilitasi proses pembelajaran, serta mendesain dan mengelola lingkungan belajar. Strategi kooperatif dapat memberikan pengalaman belajar dengan membangun saling ketergantungan positif antar sesama anggota kelompok, mengembangkan tanggung jawab individual, dan keterampilan bekerjasama secara seimbang.
Ketiga pilar pendidikan yang diuraikan di atas ditujukan untuk melahirkan generasi muda yang mampu mencari informasi, menemukan ilmu pengetahuan, melaksanakan tugas dalam mengatasi masalah, dan mampu bekerja sama, bertenggang rasa dan toleran terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan, maka akan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Hasil akhirnya adalah peserta didik akan berkembang menjadi manusia yang mampu mengenali dirinya, berkepribadian mantap secara emosional dan intelektual dan mandiri. Manusia seperti ini akan mampu mengendalikan dirinya, konsisten dan memiliki rasa empati atau dalam kamus psikologi disebut memiliki kecakapan emosional (emotional intelligence). Inilah makna dari belajar untuk menjadi (learning to be) yaitu muara akhir dari ketiga pilar yang lain.
Proses pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung selama ini pada umumnya belum mampu membantu peserta didik untuk mencapai tingkatan kepribadian seutuhnya. Hal ini terjadi mungkin karena proses belajar yang dirancang oleh guru belum sampai pada tingkatan joy of discovery pada pilar belajar untuk mengetahui, tingkatan joy of being succesful in achieving objectives, pada pilar belajar untuk melakukan, dan tingkatan joy of getting together to achieve common goal pada pilar belajar bersosialisasi atau hidup bersama. Hanya melalui penerapan paradigma baru pembelajaran dengan berorientasi pada keempat pilar pendidikan maka upaya menghadapi tantangan zaman melalui pengembangan kemampuan dan pembentukan watak akan dapat berhasil. Terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya sebagai tujuan utama pendidikan akan benar-benar terwujud bila ditunjang dengan sistem perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran dilakukan secara objektif, komprehensif dan berkesinambungan.

C.       Perkembangan Paradigma Abad 21 Dan Hubungannya Terhadap Kurikulum 2013
 Perkembangan dunia abad 21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi kehidupan. Teknologi menghubungkan dunia yang melampaui sekat-sekat geografis sehingga dunia menjadi tanpa batas. Teknologi transportasi udara memberikan kemudahan menempuh perjalanan panjang. Media on-line beritasatu.com merilis waktu tempuh Newark – Singapura sejauh 9.535 mil dengan penerbangan non-stop selama 18 jam. Melalui media televisi, kejadian di suatu tempat dapat secara langsung diketahui dan dilihat di tempat lain yang berjarak sangat jauh pada waktu bersamaan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet memberi kemudahan pengiriman uang pada waktu yang sangat singkat, bahkan real time. Perkembangan teknologi menjadikan terjadinya perubahan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja.
Tantangan masa depan yang harus dihadapi oleh generasi mendatang. Antara lain : 1) Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA, 2) Masalah lingkungan hidup, 3) Kemajuan teknologi informasi, 4) Konvergensi ilmu dan teknologi, 5) Ekonomi berbasis pengetahuan, 6) Kebangkitan industri kreatif dan budaya, 7) Pergeseran kekuatan ekonomi dunia, 8) Pengaruh dan imbas tekno sains, 9) Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. Maka sebagai generasi yang bijak maka perubahan dan permasalahan-permasalahan itu harus dapat kita sikapi dengan bijaksana sehingga  perubahan dan permasalahan itu dapat kita selesaikan dengan baik dan dapat meningkatkan martabat kita sebagai manusia.
Standar kinerja akademik terjadi seiring dengan perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) dan pertumbuhan ekonomi global. Perubahan standar menuntut penyesuaian dunia pendidikan dalam menyiapkan peserta didik. Tekonologi informasi dan komunikasi memudahkan komunikasi antar anggota masyarakat dan dunia kerja yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pertumbuhan ekonomi global menuntut persaingan yang semakin ketat dalam setiap aspek kehidupan, pasar tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat geografis, namun dusah menjadi pasar global. Siswa abad 21 perlu dibekali dengan kemampuan TIK dan mencermati perkembangan ekonomi global. Proses pembelajaran harus mengakomodir hal tersebut.
Kesuksesan seorang siswa tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga siswa harus belajar untuk memilikinya. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi : berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. Berpikir kritis berarti siswa mampu mensikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, mampu memanfaatkan untuk kemanusiaan. Trampil memecahkan masalah berarti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan belajar sebagai wahana berlatih menghadapi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya. Ketrampilan komunikasi merujuk pada kemampuan mengidentifikasi, mengakses, memanfaatkan dan memgoptimalkan perangkat dan teknik komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi kepada pihak lain. Terampil kolaborasi berarti mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan sinergi. Sedang menurut National Education Association untuk mencapai sukses dan mampu bersaing di masyarakat global, siswa harus ahli dan memiliki kecakapan sebagai komunikator, kreator, pemikir kritis, dan kolaborator.
Mensikapi fenomena perubahan kebutuhan tenaga kerja dan kemajuan, sekolah perlu dipersiapkan dan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan abad 21. Pemahaman terhadap kecakapan abad 21 menjadi penting disampaikan kepada siswa. Pencapaian kecakapan abad 21 dilakukan dengan memahami karakteristik, teknik pencapaian dan strategi pembelajaran yang dilakukan. Oleh karenanya lahirlah kurikulum 2013 sebagai penunjang paradigma pendidikan abad 21 ini.
Tema pengembangan Kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Dalam acara sosialisasi tersebut juga dijelaskan tentang alasan untuk dikembangkannya Kurikulum 2013  untuk menyiapkan generasi masa depan yang memiliki kemampuan, berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis,kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan,kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab,kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja ,memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kurikulum 2013 yang akan diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013-2014 ini, merupakan penyempurnaan Kurikulum KBK dan KTSP memerlukan tahapan mulai sosialisasi sampai implementasi harus melalui perjuangan dan kerja keras dari semua pihak yang peduli terhadap mutu pendidikan. Banyak tanggapan dari praktisi, pengamat serta pakar dunia pendidikan baik yang pro maupun yang kontra, hal ini merupakan pertanda positif yang berarti peduli terhadap  pendidikan sehingga banyak masukan dan kritik yang membangun dalam memperbaiki hal-hal yang harus disempurnakan. Kurikulum 2013 jika dikatakan sebagai perubahan ini juga memerlukan usaha untuk dapat diterima di semua pihak, perubahan paradigma bagaimana menyusun sistem pembelajaran, metode pembelajaran yang mampu menjawab tantangan masa depan, tantangan  abad 21.

D. Strategi Pembelajaran Abad 21
Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan ketrampilan. Kemampuan berpikir kritis siswa dibangun melalui pembelajaran yang menerapkan taksonomi pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Benyamin Bloom tahun 1956 yang telah direvisi pada tahun 2001. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan pendidikan mengalami penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson dan Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.
Dimensi proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001) menyebutkan bahwa pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan faktual, yaitu pengetahuan yang berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau unsur dasar yang ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail. Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang muncul dalam pengetahuan. Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori. Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Dimensi poses pengetahuan terbagi dalam tiga yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Anderson & Krathwohl, 2001:67-68) ranah kognitif terbagi dalam enam tingkat yaitu : 1) mengingat (remember) : mengambil, mengakui, dan mengingat pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang; 2) memahami (understand): membangun makna dari lisan, pesan tertulis, dan grafis melalui menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasi, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan; 3) menerapkan (apply): melaksanakan atau menggunakan prosedur melalui pelaksana, atau menerapkan; 4) menganalisis (analyze): breaking materi menjadi bagian-bagian penyusunnya, menentukan bagaimana bagian-bagian berhubungan satu sama lain dan yang secara keseluruhan struktur atau tujuan melalui membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan; 5) evaluasi (evaluate): membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui memeriksa dan mengkritisi; dan 6) menciptakan (create): menempatkan elemen bersama-sama untuk membentuk suatu kesatuan yang utuh atau fungsional, reorganisasi elemen ke pola baru atau struktur melalui menghasilkan, perencanaan, atau menghasilkan.
Beers menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai kecakapan abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut : kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif; menggunakan pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan pembelajaran; pembelajaran berbasis projek atau masalah; keterhubungan antar kurikulum (cross-curricular connections); fokus pada penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh siswa; lingkungan pembelajaran kolaboratif; visualisasi tingkat tinggi dan menggunakan media visual untuk meningkatkan pemahaman; menggunakan penilaian formatif termasuk penilaian diri sendiri.
Kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif tidak monoton. Metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi yang hendak dicapai. Penguasaan satu kompetensi ditempuh dengan berbagai macam metode yang dapat mengakomodir gaya belajar siswa auditori, visual, dan kenestetik secara seimbang. Dengan demikian masing-masing siswa mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Proses pembelajaran yang mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis siswa tidak dapat dilakukan dengan proses pembelajaran satu arah. Pembelajaran satu arah, atau berpusat pada guru, akan membelenggu kekritisan siswa dalam mensikapi suatu materi ajar. Siswa menerima materi dari satu sumber, dengan kecenderungan menerima dan tidak dapat mengkritisi. Kemampuan berpikir kritis dibangun dengan mendalami materi dari sisi yang berbeda dan menyeluruh.
Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak siswa melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar siswa. Secara khusus pada dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan penguasaan materi oleh siswa. Menghubungkan materi dengan praktik sehari-hari dan kegunaannya dapat meningkatkan pengembangan potensi siswa.


E. Keterampilan yang dibutuhkan anak abad ke-21
§  Literasi Digital, yaitu ketertarikan, sikap dan kemampuan individu menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat
§  Kemampuan untuk menjadi pemain aktif dalam aktivitas belajar, bukan hanya sekadar penerima informasi pasif
§  Belajar yang melibatkan lebih banyak bekerja bersama dengan siswa lain sebagai anggota tim daripada bekerja sendiri




RUANG DISKUSI
1.      Kemajuan teknologi informasi (TIK) yang begitu cepat di abad ke-21 in telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan,termasuk prosos belajar mengajar. Ketika sumber informasi bisa diakses dari mana saja dan kapan saja tanpa hambatan. Lalu bagaimana cara kita selaku calon para pendidik menykapi perkembangan ini ? bagaimana tantangan dan kesempatannya ?

2.      Sekolah yang bagaimana yang cocok dengan anak-anak digital native sekarang ini ? model pembelajaran  yang seperti apa yang cocok untuk abad 21 yang akrab dengan peralatan digital ? karena apabila tidak segera diatasi sekolah-sekolah kita akan segera kehilangan daya tarik, membosankan dan tampak kuno bagi anak-anak era digital.

3.      Menurut anda apakah penerapan K-13 sudah sesuai dengan ciri ciri pembelajaran abad 21 ?



DAFTAR PUSTAKA


Jufri, Wahab A. 2010. Belajar dan Pembelajaran Sains. Mataram: Arga Puji Press.


15 komentar:

  1. Baik saudari saya akan mencoba menyikapi paradigma yg point 1, sebagaimana kita ketahui sebagai calon para pendidik kita harus mempersiapkan kualitas diri sendiri terlebih dahulu, dg cara melatih diri supaya memiliki keterampilan seorang pendidik yg berkualitas,ada 8 Keterampilan Dasar Mengajar Yang Harus Dikuasai Guru dianaranya sbb :
    1. Keterampilan Bertanya
    2. Keterampilan memberikan penguatan
    3. Keterampilan mengadakan variasi
    4. Keterampilan menjelaskan
    5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
    6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
    7. Keterampilan mengelola kelas
    8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan

    Jadi dg adanya keterampilan tsb diatas kita sebagai calon pendidik dapat mengatasi salah satu paradigma diatas. Thank you

    BalasHapus
  2. Wow kerennnn
    Saya akan memaparkan ruang diskusi anda pada point 1, untuk menyikapi perkembangan teknology pada abad 21 ini, para pendidik harus mampu dan lebih menguasai teknology, mengerti dan paham perkembangan iptek,

    BalasHapus
  3. Untuk diskusi yang pertama, tantangan untuk pendidik adalah harus selalu berinovasi dan kreatif. Dan membuat kesempatan bagi guru tidak hanya bisa berbagi ilmu secara formal melalui tatap muka tapi dgn Via sosial media Dan internet

    BalasHapus
  4. Saya akan menanggapi tentang apakah penerapan k 13 sesuai dengan ciri-ciri pembelajaran abad 21. Jelas harus sesuai. Kalo tidak sesuai tidak akan timbul k 13 itu di abad 21 sekarang. Dan k13 sampai sekarang masih berjalan bahkan telah melakukan revisi 2017 .

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat deai puspita sari, penerapan k13 sesuai dengan pembelajaran abad 21 karena memanfaatkan tekhnologi sesuai ciri" pembelajaran abad 21

      Hapus
    2. Iya saya juga setuju dengan pernyataan saudari Desi dan Saudari Reni. Bahwa pembelajaran pada K13 sudah memanfaatkan teknolagi. Artinya K13 sangat Relevan. Terima kasih

      Hapus
  5. Artikelnya menarik, untuk menyikapi perkembangan teknologi, guru harus bisa memanfaatkan perkembangan ini, guru harus memiliki kompetensi dibidang teknologi, agar dalam proses belajar teknologi dapat meningkatkan minat, Motivasi dan hasil belajar siswa

    BalasHapus
  6. pertanyaan no 1 guru harus memiliki kompetensi di berbagai bidang ilmu, jangan hanya menguasai satu rumpun ilmu saja selanjutnya guru harus melek terhadap teknologi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap suatu materi.

    BalasHapus
  7. Assalamualikum
    saya akan mengomentari [pertanyaan nomor 3
    menurut saya k 13 sudah sangat tepat sekali dan relevan dengan pemebaljaran abad 21, karena seperti yang kita ketahui bahawa kurikulum 2013 lebih menekankan ada konsep 5M yng dilakukan oleh siswa (saintifik) dan berorientasi sepenhunya pada siswa, guru hanya fasilitator. hal ini sangat sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad 21 saat ini
    terima kasih
    artikelnya santa bagus
    sangat bermanfaat

    BalasHapus
  8. K13 sesuai dengan abad 21 karna sampai detik ini k13 masih di berlakukan dan bahkan sekrang revisi K13

    BalasHapus
  9. saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang penerapan K-13 sudah sesuai dengan ciri ciri pembelajaran abad 21 sudah sesuai tergantung pelaksanaannya di sekolah.

    BalasHapus
  10. Seorang guru harus memiliki kompetensi di berbagai bidang ilmu, jangan hanya menguasai satu rumpun ilmu saja selanjutnya guru harus melek terhadap teknologi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap suatu materi.
    Terima kasih

    BalasHapus
  11. Artikel yang sangat menarik
    saya akan ikut berdiskusi mengenai pertanyaan nomor 3
    konsep pembelajaran ada kurikulum 2013 bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau kecakapan hidup abad 21 kepada peserta didik.
    Pelaksanaanya tergantung pada pendidik saat pembelajaran dikelas

    BalasHapus
  12. Baik saudari saya akan mencoba menyikapi paradigma yg point 1, sebagaimana kita ketahui sebagai calon para pendidik kita harus mempersiapkan kualitas diri sendiri terlebih dahulu, dg cara melatih diri supaya memiliki keterampilan seorang pendidik yg berkualitas,ada 8 Keterampilan Dasar Mengajar Yang Harus Dikuasai Guru dianaranya sbb :
    1. Keterampilan Bertanya
    2. Keterampilan memberikan penguatan
    3. Keterampilan mengadakan variasi
    4. Keterampilan menjelaskan
    5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
    6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
    7. Keterampilan mengelola kelas
    8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan apa yang di paparkan sdri dila guru juga harus memiliki keterampilan sebelum melatih keterampilan siswa

      Hapus

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS (pascasarjanaunja)

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan sua...